Oleh: Jaya Setiabudi | 26 Agustus 2010

Nggak Pakai Box

Masj, saya memiliki sebuah warung makan. Awalnya warung makan saya rame. Mendadak koki saya pulkam, saya terpaksa ganti dengan koki baru. Sejak itu, warung saya sepi. Sekarang koki lama dah balik lagi, tapi tetap sepi. Gimana promosinya agar pelanggan lama mau balik lagi? Trims.” Itulah pesan singkat yang panjang, masuk di hape saya. Bisa dibilang tiap hari, saya mendapat sms-sms konsultasi, curhat, keluhan dan lain-lain. Jika saya memikirkan jawabannya dengan serius, bisa-bisa kepala saya botak. Alih-alih menjawab ala profesor marketing, saya menjawab ala kadarnya saja. Jawaban sms diatas seperti ini: “Buat spanduk gede, tulis: KOKI LAMA UDAH BALIK LAGI LHO!”. Gampang kan! Contoh kasus yang kedua, saat saya memberikan kelas mentoring di kota Padang, seorang alumni Ecamp (Entrepreneur Camp) bernama Elfi, bercerita tentang toko kelontongnya. Dia memiliki kompetitor pas di seberang tokonya. Awalnya toko Elfi sangat ramai dikunjungi pelanggan dan rata-rata mereka adalah pelanggan tetap. Tiba-tiba, suatu hari, toko itu mendadak sepi, gara-gara diisukan (oleh toko seberang) ada ‘kuntilanak’ di pohon besar depan toko Elfi. Apa solusinya? Sekali lagi sambil bercanda, saya menjawab,”Buat aja spanduk besar di pohon itu, terus tuliskan: TAK ADA KUNTIL ANAK, ADANYA KUNTIL IBU! atau KUNTIL ANAK PINDAH KEDEPAN!”. Spontan wanita itu tertawa. Anda sendiri tertawa nggak?

Pada saat review business plan siswa YEA (Young Entrepreneur Academy), saya mempertanyakan slogan produk makanan mereka ‘bersih dan sehat’. Slogan itu adalah slogan sejuta umat. Jadi tidak akan ‘nyantol’ di benak konsumen. Saya bertanya kepada mereka,”Apa sih perbedaan produkmu dibanding milik kompetitor?”. Diapun bercerita,”Produk saya itu Pak, rasanya asam manis nano-nano deh. Lihat aja orang udah ngiler”. Terus saya bertanya,”Kenapa nggak itu yang kamu komunikasikan?”. Dia balik bertanya,”Lha bagaimana ngomongnya?”. Saya jawab,”Ya itu tadi, yang ada ngiler-nya itu!”. Dari situ dia mengubah slogannya menjadi ‘Ngiler kan?’.

Jadi apa sih kuncinya?

Pertama, komunikasikan apa yang ada di benak dengan spontan, liar, polos, layaknya anak kecil. Jangan banyak aturan, kecuali hukum yang berlaku, norma atau agama. Ternyata marketing itu nggak sukar kan? Kita sendiri yang membuatnya sukar! Koq bisa? Karena teori-teori di bangku sekolah tidak diperbaharui. Apa bedanya produk Anda dengan orang lain? Komunikasi apa yang ada di benak Anda. Atau minta masukan kepada pelanggan, ”Apa sih yang mereka sukai dari produk Anda?”

Ketiga, buat calon pelanggan penasaran dengan slogan atau periklanan Anda. Seperti slogannya bakmi Pak Mo (franchise dari bakmi Mbah Mo, Bantul),”Dimasak tanpa api”. Tentu saja membuat orang penasaran. Saat mereka berkunjung dan menanyakan ke Mbah Mo, dengan enteng Mbah Mo menjawab,”Maksudnya tidak pakai kompor, tapi pakai arang yang membara”.

Kelima, tidak harus urut, seperti Anda baca, alinea diatas, dari pertama, lompat ketiga kemudian kelima. Bisa saja Anda memberikan penomoran ‘cabang no. 27’ tanpa harus membuka 26 cabang terdahulu kan? Apakah ini penipuan? Tentu bukan, coba baca ulang dengan seksama, ‘cabang ke 27’ atau ‘cabang no. 27’? Bahkan hal tersebut pernah kita terapkan di proyek Young Entrepreneur Academy (YEA), bernama ‘Katrock Kape’. Lebih dari itu, dibawah tulisan cabang tersebut, kita tuliskan nama kota-kota seperrti, Jakarta, Surabaya, Bandung, Cirebon, Tegal, Semarang, dan lainnya. Tentu saja membuat pelanggan tambah bertanya-tanya,”Lha itu semua cabangnya ya?”. Kemudian kita menjawab, “Bukan, itu trayek bus malam”. Tidak berbohong bukan?

Box?

Masih ingat dengan pertanyaan klasik “Gelas ini setengah isi atau setengah penuh?”. Kemudian dari jawaban tersebut diambil kesimpulan tentang sikap diri kita. Dan anehnya kita meng-amini-nya. Anak kecil akan menjawab,“Lucu ya gelasnya!” Seorang entrepreneur akan balik bertanya,”Berapa ya kulakannya? Bisa dijual berapa ya?”. Jadi apakah harus linier? Kan bisa lateral dan liar.

Saya suka memperhatikan perilaku anak saya yang kecil, Alfin. Istri saya membelikannya dua pasang sepatu yang serupa, tapi beda warna, yaitu merah dan biru. Sewaktu Alfin akan berangkat ke sekolah, ia memilih mengenakan sepatu warna merah di kaki kanannya dan warna biru di kaki kirinya. Istri saya menanyakan, apakah seharusnya kita tegur atau kita biarkan? Saya memilih membiarkannya. Mengapa? Pertanyaan saya: Apa salahnya? Apakah ada aturan kanan dan kiri harus sama warnanya? Apakah melanggar norma? Tidak kan! Ya biarkan saja liar.

Kreativitas seringkali diistilahkan dengan ‘think out of the box’. Kalau menurut saya ‘think without the box’ atau “kenapa sih harus pakai box?”.


Responses

  1. tambah semangat setelah membaca tulisan mas j…
    akan saya praktekan buat spanduk gedhenya…
    thanks mas j..

  2. Subhanallah … tulisannya ringan, lugas, lucu dan mengena di hati dan pikiran.
    ‘Bener juga ya’ … ‘iya ya’ … ‘A-haa’ menari-nari di pikiran saat membaca tulisan mas J.
    Thanks Mas J.
    Rudy Syafruddin (E-camp 27).

  3. sippp…segera saya aplikasikan pak…
    saya bakar deh box-nya…

    thx
    idas
    http:/zazasalonmuslimah.com/

  4. I was amused by this article, but consider it my lips with a smile, thank you for this

  5. Sungguh out off the box…. Jadi terinspirasi membacanya.. Thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: