Oleh: Jaya Setiabudi | 4 September 2010

Tapa Brata

Untuk menjaga stamina otak saya agar selalu fresh dan ter-update, saya menargetkan  minimum 2 kali dalam setahun harus mengikuti pelatihan(bukan seminar). Rata-rata durasi pelatihan yang saya ikuti 2 sampai 4 hari. Namun di tahun ini ada yang berbeda. Pilihan saya jatuh ke pelatihan meditasi kesehatan Tapa Brata (7 hari, 6 malam) di Bali, yang di asuh oleh Guru Merta Ada, pendiri Bali Usada. Tak ada alasan yang jelas mengapa saya ingin belajar meditasi. Awalnya hanya sebuah referensi dari alumni ECamp saya, Pak Agus Wiyono. Kata beliau ajaran di ECamp mirip dengan ajaran gurunya, tentang kekuatan memaafkan. Hingga ujian demi ujian dalam bisnis dan kehidupan saya yang mendorong saya mendalami makna ‘keheningan’. Dari situlah vibrasi saya semakin kuat untuk mempelajari meditasi.

Saya tidak kompeten untuk menjelaskan apa makna meditasi. Saya hanya akan berbagi apa yang saya dapatkan dari meditasi tersebut. Memang ada sebagian orang yang menakutkan meditasi dapat menyesatkan keimanan kita, saya berkata “Bisa jadi! Tergantung guru dan Anda sendiri yang menafsirkannya”. Namun sepanjang yang saya ikuti bersama Guru Merta Ada, beliau selalu memulai dengan berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing, tidak ada ritual keagamaan khusus yang menggeser tauhid saya.

Apa sih yang dipelajari?

Pertama, duduk bersila tanpa gerak selama 45 menit! Sepertinya enteng ya kalau hanya dibaca. Tapi cobalah Anda lakukan, ‘tanpa bergerak dan mengubah posisi kaki dan tangan Anda’. Apa yang terjadi? Baru beberapa menit saja, gatal-gatal di kepala, muka dan bagian tubuh yang lain menggoda saya untuk menggaruknya. 10 menit berlalu, telapak kaki mulai kesemutan. 20 menit, tidak hanya telapak kaki, betis juga kena getahnya. 30 menit, mati rasa deh, seperti organ yang terputus. Bosan? Jangan ditanya, so pasti! Dari situlah saya belajar mengontrol emosi dan respon saya terhadap kejadian yang menimpa. Tidak mudah reaktif, lebih proaktif dan sabar.

Kedua, saat meditasi, tugas kita hanya ‘mengamati’ nafas (buset, nafas diamati, kayak cewek aja tuh!), bukan mengatur nafas. Mengamati saat keluar dan masuk dari hidung kita. Hal ini sangat berguna bagi saya saat membutuhkan ‘switch’ fokus dengan cepat. Cukup pejamkan mata dan amati nafas, lupakan lainnya.

Ketiga, ‘No Ngelamun’! Lha ini yang tidak mudah, selama 7 hari disana, usai meditasi dan khususnya saat meditasi, dilarang untuk ‘ngelamun’. Ternyata ngelamun adalah sumbernya penyakit. Meng-andai dan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, berbicara dengan diri sendiri berlebihan, memutar ulang ‘filem-filem’ buruk masa lalu kita. Semua itu membuat pikiran kita terlalu jenuh dan sukar berfikir jernih. Dari situ saya belajar mengontrol pikiran saya. Hingga tiap saat pikiran saya melayang tak karuan arahnya, saya kembali ke ‘mengamati nafas’.

Keempat, ‘FULL SILENT’, tak boleh berbicara sedikitpun selama 6 hari. Untung saya bukan tipe sanguinis emberis yang tidak betah dengan berdiam. Silent sangat bermana bagi kesehatan pikiran kita, bak puasanya mulut dan pikiran kita. Tatkala mulut berbicara, banyak pembenaran nurani yang dilakukan, fokuspun sering tergoyahkan.

Kelima, vegetarian selama 7 hari. Ehem, kebiasaan makan saya yang cukup rakus, tidak mudah mempraktekkan hal ini. Tapi setelah itu, saya belajar apa itu makna ‘makan secukupnya’. Juga bermanfaat mengontrol keserakahan saya dalam hal-hal lain di kehidupan saya.

Dari pelatihan 7hari 6malam yang ‘membosankan’ itu, saya kangen dengan kedamaian hati sang guru. Jarang saya menemukan orang yang memiliki redaman emosi setingkat beliau. Kerendahan hatinya tercermin dari kesahajaaan pakaian dan tutur katanya, jauh dari keinginan pengkultusan dan popularitas. Padahal dengan jam terbangnya selama 17tahun mengajar meditasi dan 86.000 alumni sedunia (termasuk ketua parlemen Inggris dan keluarga kerjaan Inggris), beliau pantas dipuja. Kemelekatan itu nyaris tak tampak pada dirinya. Semoga nilai-nilai ‘keheningan’ itu bisa saya teladani. Trimakasih Guru Merta Ada!


Responses

  1. nanya bernafas itu sebaiknya masuk dan keluar lewat hidung,atau masuk lewat hidung keluar lewat mulut.
    aku baca lebih baik masuk dan keluar lewat hidung karena bikin riles dan tenang, apa iya?

    • Banyak macamnya pernafasan neng. krn di meditasi kita diajarkan tidak mengatur nafas, tp mengamati nafas, jd biarkan alami spt kita bernafas biasa.

  2. cukup menarik…
    Tp apakah itu bisa dopraktekkan sendiri,misalnya 1 hari 1 jam mediasi di kamar,..
    terimakasih..

    • justru harus dilatih tiap hari agar dampaknya terasa

      • ooh begitu ya…
        thanks atas informasinya..

  3. Mengantisipasi melamun saat diam, waktu itu bapak dianjurkan seperti apa? Apakah bisa dengan berdzikir misalnya sesuai keluar masuknya nafas? trimakasih sebelumnya…

  4. Dalam Islam jg ada hal semacam itu pak, step nya hampir mirip…dari jaga bicara, vegetarian, dan duduk bersila namun menyebut nama-Nya…tapa brata yang ini namanya Suluk. Pekerjaan orang-orang Sufi.😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: