Oleh: Jaya Setiabudi | 7 September 2010

Terapi Nasi Bungkus

“Ikhlas itu makanan apa?” Mudah untuk mengucapkan kata ‘ikhlas’, tapi apakah mempraktekkannya semudah itu? Sebagai pengasuh di YEA (Young Entrepreneur Academy), saya dihadapkan oleh banyak tantangan, terutama masalah-masalah pribadi siswa YEA. Dari korban KDRT, perceraian ortu mereka, hingga putus cinta. Meski itu diluar tanggung jawab saya, tapi bagaimanapun masalah itu sangat mempengaruhi etos belajar mereka di YEA. Mungkin saya tidak bisa menyelesaikan masalah mereka, namun setidaknya saya bisa membantu meredam suasana hati mereka yang gundah.

Salah satu terapi yang paling sering saya sarankan kepada mereka adalah terapi nasi bungkus. Ya benar, terapi nasi bungkus! Inilah pesan saya ke mereka,”Nanti malam belilah 10 nasi bungkus atau sesuai kemampuamu. Kemudian bagikan kepada orang-orang miskin di pinggir jalan yang kamu temui. Tidak usah pedulikan apa suku dan agamanya. Berikan dan lihat wajah mereka saat menerimanya. Rasakan energi positif yang mereka ungkapkan di wajah mereka.” Ternyata terapi yang sederhana ini dapat mengobati berbagai macam penyakit, seperti: sombong, stress, dililit hutang, benci/ dendam, kecewa, termasuk putus cinta lho!

Jangan percaya sebelum mencoba. Coba deh!


Responses

  1. kunjungi blog gw yah yg mau belajar hacking http://tutorhack.wordpress.com/

  2. wah terapi ini belum pernah saya coba..
    siap laksanakan segera!

  3. Kalau pembagian nya gak usah di jalan tapi di lingkungan sekitar gimana ya😕 karena di sekitar rumahku juga masih banyak yang perlu disantuni.
    Salam kenal serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. Subhanallah…meski baru pertama kali ini sy masuk ke blog Mas J, sy beruntung langsung mendapatkan tulisan pendek yg luarbiasa. Alhamdulillah, Lebaran kali ini adalah Lebaran ke tiga sy tdk bisa pulang mudik, ya seperti lagu “Bang Toyib” itu Mas J. hehehe.
    Dengan hati sedikit gundah, saat malam takbiran kemarin, sy keluar rumah menyusuri jalan raya Sragen-Solo, dgn niat mencari org yg “Kurang Beruntung” untuk saya titipkan sedikit rejeki yg saya punya, (smoga Allah menjauhkan sy dari sifat Riya) sy beruntung, di tengah perjalanan bisa menemukan seorang pemulung (Nasrani) yg sedang tidur2an di bawah halte krn kecapean dayung onthel yg penuh muatan dr Sragen ke Palur, dan yg satunya lg Muslim (sdh renta,63th) bertemu di sekitar Kota Palur, katanya blm bisa mudik ke Wonogiri krn msh kekurangan biaya. Luarbiasa..Mereka masih berjuang demi hidupnya meski sdh sampe jam 9.30 malam. Masya Allah, benar kata Mas J, ketika tangan kami berjabatan sambil menyelipkan sdikit titipan rejeki dr Allah, wajah sumringah beliau berdua (meski dibalik gelap malam) telah menularkan energi positif untuk sy, kesedihan sy hilang diganti dengan doa dan pengharapan semoga kelak sy bisa membahagiakan org2 seperti mereka lebih banyak lagi. Amiin.
    Terimaksih pencerahannya mas J. Minal Aidin wal Faidzin, Mohon maaf lahir&batin. Salam Hormat

    • Semoga dilapangkan & dimudahkan Rejeki Pak Nurdin, amiin…

  5. wah ktemu juga blognya mas J, Salam kenal mas🙂 saya sudah beli the power of kepepetnya Muantebb, Fun..Alhamdullilah sudah buka usaha . Sarannya bole juga nih..Insya Alloh tak coba..

  6. Setuju bgt mas j….
    Alhamdulillah dahulu saya prnah melakukan dan mersakannya…
    Sekarg akan saya Ulangi lg, Insya Allah… HARUZ..!

  7. saya pernah…. eeeehhh… dari 10 cuman 3 yg mau dikasih…
    yang laen kayaknya takut … mungkin karena doktrin… “jangan terima pemberian dari orang yang tidak dikenal” kali yaaa…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: