Oleh: Jaya Setiabudi | 18 September 2010

ZERO

Beberapa lalu lalu Om Bob Sadino menelepon saya, sekedar memberitakan bahwa beliau telah menerbitkan buku baru, berjudul “Bob Sadino; Orang Bilang Saya Gila”. Ehh, pas kebetulan saya sedang di Jakarta, Om Bob-pun mengatakan,”Jay, mampir donk kesini, kangen nih aku ngobrol sama kamu!”. Spontan saja saya meluncur kesana. Untuk ketiga kalinya saya berkunjung ke rumah Om Bob, masih saja saya terkagum akan apa yang telah dicapainya. Di atas tanah seluas 2 hektar, berdiri bangunan bergaya klasik nan kokoh, memberikan kedamaian. Di halaman parkir, terdapat beberapa mobil mewah, antara lain 2 buah jaguar bernomor polisi ‘2121’. Jangan ditanya kenapa nomornya ‘2121’ (baca: tuan-tuan), pasti Om Bob akan menjawab,”Masa saya nyonya-nyonya!” Jika Anda menelusuri sepanjang rumah Om Bob, Anda hampir tidak percaya dibuatnya. Di kepadatan bangunan jalan Lebak Bulus P&K, terdapat pemandangan lain yaitu lapangan berkuda yang terletak di bawah beranda rumah Om Bob.

Cerita saya bukan untuk memamerkan kekayaan seseorang diantara kisah penderitaan sekitar kita. Namun saya hanya berusaha ‘menyerap’ energi di balik pencapaian-pencapaian Om Bob,”Apa sih rahasianya?”. Bagi sebagian Anda yang pernah menonton seminar atau talk show Om Bob, mungkin masih banyak yang bingung,”arahnya kemana sih omongan Om Bob itu?”. Sayapun saat pertama kali bertemu selama 3 jam di rumahnya, pulang dengan membawa kebingungan. Baru setelah pertemuan ketiga bersama beliau, saya ‘ngeh’, apa yang selalu ia gemborkan,”Bebaskan dari belenggu rasa takut dan jangan berharap!”. Yang pertama sih, sangat bisa dipahami, tapi yang kedua itu,”Jangan berharap”. Lho, bukannya orang hidup dan bertahan itu karena ‘harapan’? Apa sih maksudnya?

Ternyata Om Bob mengajarkan ke saya konsep ‘Zero’ yang pernah diajarkan oleh Pak Ary Ginanjar dalam ESQ. Saya tidak memahami benar-benar konsep ‘zero’ pada saat mengikuti ESQ. Namun saya mendapatkan ‘klik’nya dari Om Bob! Gimana sih maksudnya? Orang yang melangkah dengan harapan, jika tidak tercapai, tentu saja akan kecewa atau menghibur diri dengan harapan-harapan baru, betulkah? Apa yang terjadi jika setiap kali kita membuat harapan dalam langkah kita, ternyata semuanya tidak tercapai? Depresi kan? Coba pikirkan yang satu ini,”Kenapa sih kita masih berharap lebih atas apa yang telah Allah berikan kepada kita?” Bukannya ‘harapan-harapan’ itu membuktikan rasa ‘tidak syukur’ kita atas apa yang telah kita dapatkan? Kenapa tidak, apa yang kita lakukan atau akan lakukan adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah? Jika demikian pemikiran kita, maka ‘harapan’ akan hasil itu tidak diperlukan lagi.

Saya bukan ustad lho berbicara seperti ini, namun Pak Ary Ginanjar pernah menanyakan kepada saya,”Pak Jaya, apa yang Bapak dapatkan dari training ESQ?”. Saya menjawab sambil meneteskan air mata,”Selama ini saya hanya banyak ‘meminta’, namun saya jarang (bahkan hampir tidak pernah) bersyukur. Setelah mengikuti training ESQ, saya ‘takut’ untuk meminta. Saat saya berdoa, saya hanya berterimakasih atas apa yang Allah limpahkan kepada saya. Saat detik-detik anak saya lahir, saya penuh ketakutan, jangan-jangan ada yang kurang. Saya hitung jari-jemarinya, komplit 10. Saya adzankan di kedua telinganya, dia merespon tanda mendengar. Apa yang saya ucapkan? Alhamdulillaah! Terus apa lagi yang mau saya minta dari Allah? Pantaskah?” Terus apa sih intisari ‘zero’ itu? Ikhlas kali ya? Tawakal atau pasrah? Bisa jadi, tapi saya juga bingung bagaimana mengungkapkannya. Silakan Anda sendiri yang memaknainya. Yang saya dapatkan (akibat) dari ‘zero’ adalah, saya tidak memilki rasa takut akan masa depan saya, titik!


Responses

  1. Aku baru `ngeh` tentang pernyataan om bob –> Saya tidak punya harapan.

    Thanks Pak Jaya atas penjelasannya.

  2. saya suka banget sama kalimat yang ini Pak J ,”Kenapa tidak, apa yang kita lakukan atau akan lakukan adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah? Jika demikian pemikiran kita, maka ‘harapan’ akan hasil itu tidak diperlukan lagi.”

    Terima kasih pak J

  3. kalimat terakhirnya yg paling saya suka :

    “Yang saya dapatkan (akibat) dari ‘zero’ adalah, saya tidak memilki rasa takut akan masa depan saya, titik!”

  4. “Saya tidak memiliki rasa takut akan masa depan saya”
    Kalimat ini yang sll digunakan suami untuk menenangkan kerisauan hati saya dlm menghadapi masalah2 diusaha bakery kami. Mudah2an saya ĴΰĞɑ̤̥̈̊ bs terus menerus berpikir sperti suami dan pak Jaya.

  5. […] Ada tulisan menarik berjudul Zero. Kubaca perlahan dan asal tulisan itu ternyata dari blog nya Pak Jaya Setibudi. Seorang mentor bisnis yang seminar nya pernah kuikuti. Seminar berjudul “The Power of […]

  6. berusaha keras,berusaha keras dan berusaha ikhlas,,,,,,,,tks mas jaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: