Oleh: Jaya Setiabudi | 19 September 2010

Hukum Semut

Memang benar pepatah lama “Ada gula, ada semut”, sesuatu yang ‘manis’ akan menarik orang untuk datang. Manis sendiri bisa diartikan  uang, kelimpahan, keilmuan, sesuatu yang enak dan lain-lain. Dalam dunia bisnis, saya mengartikan “sesuatu yang menarik, akan mendatangkan orang”. Sesuatu yang ‘menarik’ di metaforakan sebagai ‘gula’ dan orang yang datang ‘mengerubuti’, diibaratkan sebagai ‘semut’. Dalam istilah marketing, tenant anchor yang dapat mendatangkan keramaian (traffic), sebagai gulanya. Nah, para pemilik gula ini biasanya mendapatkan fasilitas yang istimewa, seperti sewa gratis selama beberapa tahun atau kemudahan-kemudahan lainnya. Kenapa mereka bisa mendapat sewa gratis? Ya karena bisa mendatangkan keramaian tadi! Contohnya, para hypermarket yang terkenal seperti Carefour dan Hypermart. Biasanya mereka berada di bagian belakang, bawah, ujung dari suatu mal. Mengapa? Supaya para ‘semut’ yang akan mendatangi mereka, melewati lorong-lorong mal terlebih dahulu. Jika setiap lorong mal tersebut ramai dengan orang lewat, pasti gampang jualan kiosnya.

Coba bayangkan jika Anda berjualan di tempat yang lalat atau semutpun tidak ada yang lewat. Meski murah tempatnya, seperti jualan di kuburan bukan? Kalau siang hari bisa jualan kembang dan kemenyan. Bagaimana kalau malam hari? Jualan bakso sama suster ngesot? Lain halnya jika Anda menyewa suatu tempat yang sudah pasti banyak semutnya, pasti gampang jualannya. Anda bisa berjualan coklat, roti, susu kental manis, atau segala sesuatu yang disukai sang semut. Pertanyaannya, bagaimana cara mendatangkan semut? Ya itu tadi, gulanya disebar dulu!

Apa saja yang bisa jadi gula?

Gula bukan berarti harus tenant besar seperti Carefour, bisa juga kita sendiri yang menciptakan gulanya. Contohnya jika Anda membuka usaha cuci mobil, bagaimana agar para semut datang? Anda bisa mengundang mereka dengan ‘gula gratis’ (baca: cuci gratis). Nah, anehnya, semut dalam bisnis bisa dipancing. Sudah manusiawi, jika ada keramaian, pasti membuat orang lewat penasaran,”Apaan sih itu?”. Dan anehnya juga, kebanyakan orang berasumsi bahwa ‘ramai’ itu artinya ‘laris dan enak’. Bagaimana Anda memutuskan untuk makan di suatu tempat? Selain dari referensi semut yang lain (semut get semut), dari tempat yang kelihatan banyak semut kan? Jadi intinya, semutpun perlu pancingan. Gula bukanlah akhir dari penjualan Anda. Gula hanyalah umpan untuk mendatangkan semut. Setelah para semut datang, Anda bisa menawarkan menu-menu yang lainnya untuk menambah pemasukkan. Boleh creambath gratis, tapi sambil menawarkan vitamin, hair tonic, potong rambut, refleksi kaki, manicure dan pedicure. Soto boleh tidak untung, tapi perkedel, sate kerang, krupuk parunya membuat untung. Persewaan lapangan futsal mungkin super murah, tapi sewa kios di sekitarnya super mahal, belum lagi pemasukan dari iklan disekitarnya

Jadi jangan heran jika ada kafe, salon sampai lapangan futsal yang berani memasang tarif super murah dan tidak masuk akal, dengan tujuan mendatangkan semut. Yang terpenting adalah mendatangkan traffic di tempat usaha, selanjutnya terserah Anda…


Responses

  1. .

  2. Bener juga,
    lanjut dah k artikel lanjutan

  3. nice share gan

  4. […] Hukum Semut […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: