Oleh: Jaya Setiabudi | 28 Desember 2010

PENGETAHUAN PANGKAL KETAKUTAN

Menjelang tahun baru 2008, otak saya ‘melar’ cukup dahsyat. Banyak ide-ide pengembangan usaha dan Young Entrepreneur Academy yang terpaksa belum bisa terealisasi karena terlalu banyak liburan. Mungkin itulah salah satu musuh pengusaha, yes, liburan. Jangan salah artikan bahwa saya gila kerja, namun sebaliknya, saya ini suka bermain-main dengan hobi saya, yaitu menjadi pengusaha dan mengajar. Saat bingung mau ngapain saat liburan, ehh di koran nongol iklan jalan-jalan akhir tahun ke Kuala Lumpur (KL), Genting Highland dan Malaka. Daripada bengong di rumah, saya ajak aja istri untuk bulan madu (entah keberapa). “Yuk!”, dia menyaut.
Perjalanan itu sungguh membuat saya takjub, bagaimana pariwisata menjadi pemasok devisa yang besar bagi negara kecil tersebut. Jangan bandingkan dengan Indonesia tentang kekayaan wisatanya. Negeri kita…., jaauuuh lebih kaya dan cantik dari mereka. Hanya saja, kita tertidur, sedangkan mereka sudah terbang. Yang mereka sebut-sebut sebagai ‘Caves’, tak lebih cantik dibanding Ngarai Sianok di Bukit Tinggi. Pemandangan sekitar Genting Highland, tak lebih apik dibanding Puncak – Bogor. Tapi mengapa setiap sudut dari Genting bisa menghasilkan uang. Mungkin anda akan menjawab karena adanya casino disana. Menurut saya bukan. Buktinya, mayoritas dari pelancong, justru tidak pernah menginjakkan kaki ke ruang casino, termasuk saya. Namun wisata belanja dan permainannya yang mirip miniatur Dufan – Ancol, cukup membuat kaki kita pegel menapakinya.

Toko Turis
Rombongan kita sempat singgah di Duty Free Shop, yang terletak di kawasan pergudangan di daerah KL, yang jauh dari keramaian. Tempat itu benar-benar tidak seperti showroom jam dan cendera mata untuk turis. Harganyapun jauh lebih mahal dibanding dengan Batam. Tapi kenapa ramai dan laris? Turislah pembelinya. Sempat juga kita terhenti ke pusat penjualan coklat, ya, permen coklat, yang harganya terbilang mahal, tapi laku keras juga bak kacang goreng. Pernah saya lontarkan ide tentang membuka toko turis ini di kelas pengusaha di Bali, seperti halnya ‘toko Erlangga’, ehh kebanyakan mengatakan,”Turis sekarang pinter-pinter Pak, mereka tahu beli dimana yang murah”. Inilah yang disebut ‘BANYAK TAHU, BANYAK TAKUT’. Mereka berfikir para turis tahu tempat yang murah, seperti halnya mereka. Padahal, prosentasi yang tidak tahu dan ‘pasrah’ terhadap tour guide lebih banyak. Dan perlu diingat, banyak dari para pelancong yang tidak price sensitive, alias “bayar aja deh…!”
Masih nggak percaya kalo tempat terpencil tindak menjadi masalah? Coba datangi tempat-tempat berikut ini, Molen Kartikasari – Bandung, yang tempatnya di gang sempit seukuran satu mobil; Brownis Amanda – Bandung; Bolu Meranti – Medan; Moaci Gemini – Semarang; Pedesan Pepaya Teluk Betung – Lampung; dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda berfikir bahwa mereka sudah lama berdiri, namun sebenarnya itu semua bisa diciptakan secara instan dengan pola kerjasama bersama tour & travel. Ingat, mayoritas pendatang di suatu kota, baik untuk urusan wisata atau bisnis, mereka akan menanyakan,”Apa oleh-oleh khas sini?”. Jangan takut, masih banyak yang tidak tahu!


Responses

  1. Sepakat mas Jay….banyak tahu, banyak mikir, no action. Salam kenal, saya temen mas Yuda Setiabudi di Semarang.

  2. saya sudah bc bukunya mas Jaya yang TEPOK, skrng saya lagi kepepet nih gak punya kerjaan hehe, makanya komen postingan aja😀

  3. setuju mas Jay…saya sempat brenti kerja,akhirnya kepepet karena udah berkeluarga n banyak utang…lalu merintis usaha dan jalan sekarang meski omsetnya belum sesuai harapan…thanks atas inspirasinya…salam kenal Bambang dari jember-jawatimur

  4. Mas Jaya,..minta contoh bikin konsep bisnis nya dong, kalo bisa yang langsung bisa dijalankan. Modalnya jangan gede2. Please..pengen usaha sendiri nih..abis jd karyawan terus cuma gini-gini aja. Thank’s

  5. setuju
    just du it

  6. siippp pak jaya…

  7. […] PENGETAHUAN PANGKAL KETAKUTAN […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: