Oleh: Jaya Setiabudi | 2 April 2011

Numpang Beken

Akhir-akhir ini saya sering sekali nongkrong di Twitland. Selain bisa berbagi ke lebih banyak orang, juga lebih efektif karena one to many, bahkan many to many. Bagi saya, setiap problem dari mereka, merupakan latihan bagi otot otak saya. Kali ini ada sebuah soal dari beberapa tweeps yang pernah menjadi contoh kasus alumni Entrepreneur Camp (ECamp) kami, sebut saja Juli. Beginilah percakapan kami…
Juli : Mas J, aku punya usaha jualan busana muslim. Apakah aku harus menggunakan nama tokoku di papan nama depan ataukah menggunakan merek salah satu produk orang lain yang terkenal?
MJ : Hah, apa alasanmu pakai merek orang lain di papan nama tokomu?
Juli : Karena pelanggan tuh tahunya aku jual jilbab ABC (sebut aja seperti itu). Merek itulah yang lebih dikenal dibanding nama tokoku.
MJ : Oww, gitu tho kasusnya…. Emangnya kamu sudah jadi distributor resminya dia juga?
Juli : Gak juga sih, cuma agen aja. Ada beberapa agen lainnya selain aku. Belum ada distributornya disini.
MJ : Selain dari produk merek ABC, adakah produk-produk lain yang kamu jual?
Juli : Banyak mas, tapi tak selaris produknya dia.
MJ : Apa kamu ada rencana atau visi, suatu saat akan menerbitkan merek sendiri untuk busana muslimmu?
Juli : Pasti donk mas, siapa sih yang gak pengin, tapi kan merekku belum terkenal. Trus gimana nih mas?
MJ : Oke aku paham kondisinya. Jadi intinya kamu menanyakan, apakah sebaiknya pakai nama ABC sebagai nama tokomu ataukah merekmu sendiri, betul?
Juli : Bener mas…
MJ : Begini Jul…, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan sebelum kita mengambil keputusan. Pertama, karena statusmu bukan sebagai exclusive distributor yang mendapat proteksi dari produsen, maka sangatlah beresiko. Apa jadinya setelah kamu berjuang mempopulerkan produk-produk mereka, kemudian suatu saat nanti mereka mendepakmu atau membuka Toko ABC yang jauh lebih besar di kotamu?
Kedua, bukankah kamu punya impian membangun merekmu sendiri, bukan sekedar menjadi reseller merek lain? Kenapa tidak kamu besarkan merekmu saja?
Juli : Bener juga ya mas, aku gak kepikiran poin yang pertama. Tapi untuk poin yang kedua, kan perlu waktu dan biaya ekstra untuk mempopulerkan sebuah sebuah merek, mas?
MJ : Betul! Nah, inilah seni memadukan keduanya… Gunakan produk dari merek-merek terkenal sebagai ‘gula’ (baca artikel Hukum Semut) untuk menarik para semut datang. Karena bagaimanapun, lebih gampang menjual merek yang terkenal. Jika sudah banyak pesaing lain yang menjual merek-merek tersebut, berikan diskon lebih. Jangan berfikir mengambil untung dari produk tersebut. Ingat, yang penting semutnya datang dulu dan betah di tokomu (sering kembali). Bukan hanya itu, ciptakan kondisi getok tular hingga para semut akan saling memberitahu,”Mau jilbab ABC, ke toko XYZ (nama tokomu) saja, miring harganya!”. Nah, saat para semut menjadi pelangganmu, tawarkan ‘roti’, ‘susu’ dan ‘coklat’, yang berlabelkan merekmu sendiri. Jelas?
Juli : Tapi mas….

Pemirsa, eh pembaca…. Apa kelanjutan dari kisah tersebut? Juli tetap menggunakan merek ABC sebagai nama tokonya. Sampai-sampai kita menyapanya dengan ‘Juli ABC’. Dia aktif mengkampanyekan merek tersebut, meski belum menjadi distributornya. Malangnya, beberapa tahun kemudian, setelah pasar teredukasi dan mencukupi kuota, ABC membangun Toko di kota Juli dan melarang Juli menggunakan ABC sebagai nama tokonya. Disitulah Juli mulai terpukul dan mengganti nama tokonya dengan Toko XYZ. Malangnya, pelanggan berfikir Toko ABC sudah pindah tempat dan tak mau menjajal produk di Toko XYZ Akhirnya Juli banting setir membuka bisnis lainnya yang beda total dengan sebelumnya.
Belajar dari kisah Juli, memang tidak ada yang sia-sia atas apa yang terjadi. Tapi alangkah baiknya kita belajar dari pengalaman orang lain, untuk menghindari ‘lubang’ yang serupa. Boleh kita numpang beken dengan merek orang lain, tapi besarkanlah jalur distribusinya, bina pelanggannya dan besarkan besarkan merek kita, bukan sekedar bangga dengan kebesaran merek orang lain. Perlu diperhatikan juga bahwa semut yang kita pancing dengan gula, haruslah sesuai dengan target pasar ‘roti’, ‘susu’ dan ‘coklat’ yang kita jual. Jika tidak, maka para semutpun tak berselera dengan produk-produk kita. Paham? Jika tidak, twit saya di @jayayea


Responses

  1. saudara saya pernah mengalami hal seperti ini.. dan itu sangat menyakitkan.. >..<

    harus lebih hati2 nich kedepannya..🙂 semangat!!!

  2. Terimakasih telah berbagi cerita. Tentunya menambah point kehati-hatian bagi saya mengambil langkah. Teruslah berbagi Pak Jaya… Saya senantiasa menikmati timeline yg penuh dengan support membangun seperti @jayayea
    Inti yg bisa saya ambil dari cerita diatas adalah kepercayaan diri serta siasat berkembang.

  3. Terima kasih ilmunya Mas J, itu juga yg terjadi dg grup band saya kira2 10 tahun yll. Karena ga PEDE bawain lagu sendiri akhirnya sampe sekarang juga belum go nasional, hehehe…
    Sedangkan untuk ilmunya insyaAllah akan segera saya lakukan untuk toko baju ibu saya, doain tahun ini terealisasi dengan brand-nya sendiri ya..
    Salam dari Semarang🙂

  4. Nice article….sangat inspiratif. Good luck and salam kenal yach sob…by info mesin roti

  5. ass….mas Jay say sekarang jualan pulsa hanya dikalangan org dekat…aja alias dari mulut aja.saya kepikiran buka kios ukuran 2×2 untuk pulsa……tp ditmpt sy ada konter pulsa org jual pulsa.mrk jual pulsa rata2 harga 6rb,10rb dan 21rb…..sdngkan sy jual saat ini 7rb,12rb dan 22rb….apa dikonter br sy hrus ikut jual harga yg sama 6rb,11rb n 21rb…?mohon solusinya…

  6. sangat berguna, teruslah berbagi mas J

  7. Bener banget,mending buat merk sendiri walaupun susah di awal tapi kalo fokus InsyaAllah bisa.itung2 buat kerajaan sendiri dan kita akan kuasai dunia. Hahahaha *tertawa misterius

  8. Mantab bener sih juragan satu ini ! Keep sharing gan..

  9. lagi baca blog mas J, sempat melakukan hal yang sama, nah teman-teman yang usaha bisnis sepatu wanita, cek ya webku htttp://www.istanasepatuwanita.com , mampir-mampir bisa bikin merk sendiri juga sembari jual ready stock ku , numpang promosi ya mas J , matur nuwun😀

  10. […] Numpang Beken […]

  11. om Jaya, aku selalu pantengin TL-nya om loh.. hehe

    om, mau konsul gratis boleh ya.. aku sama temen2 (7 orang) membangun usaha aksesoris, tempat pensil, tas dll. awalnya memang cuma iseng-iseng. karna kami sama sekali belom punya basic apapun tentang bisnis. rata-rata usia kami masih SMA dan kuliah.
    sudah jalan satu tahun hingga kini, total ada 60 jenis. pesanan semakin banyak hingga kami malah kebingungan untuk mengerjakan pesanan, karna produksi kita memang lamban. maklum, kita handycraft. pelanggan bilang produk kami memang menarik, tidak seperti produk2 dari flanel biasanya. apalagi kami bisa membuat sesuai pesanan, dari gambar hingga bentuk huruf yang dikehendaki pun kami bisa buatkan.
    tapi 3 bulan belakangan pelanggan mulai kecewa karna pesanannya jadi lebih lama dari perkiraan, ditambah lagi aktivitas kami semakin banyak, hingga akhirnya hanya 2 dari kami yang bisa aktif di produksi. sebagian besar pesanan kami tolak, pesanan yg masuk pun meleset jauh dari deadline seharusnya.
    akhirnya kami memutuskan untuk break, sembari menyusun rencana yang baru. karna menurut kami jika kami terus menerus mempertahankan kondisi ini, nama baik kami semakin jatuh dipasaran.

    kini kami berencana untuk merubah konsep,
    1. merekrut pegawai, agar kesibukan kami tidak mengganggu produksi
    2. menggunakan bantuan mesin jahit. (agar produksi lebiih cepat. untungnya sejak awal kami tidak menambahkan embel-embel handycraft)
    3. membuat produk2 ready stock (bukan pesanan, shg pembuatannya bisa diduplikasi dari pola yang ada dan lbh cepat, karna tidak terhantung satu orang yang pandai mendesain) untuk kemudian memasoknya ke outlet2 lain (kami sendiri saat ini belum memiliki outlet sendiri)
    >> tapi apakah ini baik untuk kami? karna kemungkinan outlet2 itu akan mengganti merk kami dengan merknya sendiri. dan mungkin saat kami siap membuka outlet sendiri nanti outlet kami sudah tidak memiliki ciri khas lagi, karna produk kami sudah tersebar di outlet2 lain.

    tapi saat ini kami masih mendiskusikan kembali rencana ini sembari mencari investor, untuk keperluan menggaji pegawai di bulan2 pertama, membeli beberapa unit mesin jahit dan menyewa tempat produksi yang lebih besar.

    jadi, apakah tindakan kami break sementara dan berencana memasok brg k outlet2 ini benar? dan bagaimana cara meyakinkan investor dengan basic kami yg masih terbilang belum berpengalaman ini? atau malah ada cara lain yang bisa kami tempuh tanpa harus mendapatkan investor?

    mohon reply ya om.. mohon bantuannya ^^ *berharap banget
    atau ke email saya om, kalau tidak keberatan: ghinazzone@gmail.com
    *maaf kepanjangan, hehe

    terima kasih banyak om Jaya yang baik hati dan tidak sombong ^^

  12. Mangtabs dan menjadi pelajaran yang bagus bagi saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tak ada kategori
%d blogger menyukai ini: